top of page

Toxic Positivity: Ketika kata-kata dorongan justru menjatuhkan mental.

  • Writer: Adrian Tambunan
    Adrian Tambunan
  • Jun 2
  • 1 min read

"Kamu harus bersyukur",


"Masih ada yang lebih menderita dari kamu"


"Lihatlah ke bawah."


Pernah dengar TOXIC POSITIVITY? Simpelnya, orang yang menuntut dirinya sendiri atau orang lain untuk selalu bersikap positif, dan menolak emosi negatif. Kenapa dikatakan toksik? Karena pada kasus ini, emosi negatifnya bukan hilang, hanya dikesampingkan, akhirnya? numpuk! Bisa tiba-tiba meledak marah atau malah depresi.

Harusnya gimana? Ada kalanya emosi negatif itu harus dihadapi, bukan sekedar disampingkan. Salah satu caranya: Diskusi dengan orang terdekat dan dipercaya, gak ada? Ke psikolog, gak usah malu! ada kalanya cerita bisa mengurangi beban di kepala, meskipun belum ada solusi yang konkrit dari suatu masalah.


Cara berijkutnya: Jangan bandingkan diri dengan orang lain! Ada kalanya ini positif, tapi bisa jadi negatif misalnya terus-terusan patokan kita agar bahagia adalah pencapaian orang lain, ini tidak baik, pahami kelebihan dan kekurangan diri sendiri. Extrovert mungkin healing dengan nonton konser, introvert mungkin dengan baca buku di cafe yang tenang dan sepi. Setiap orang mempunyai preferensi masing-masing.


Terakhir: Kurangi media sosial! Banyak hal positif di sosmed? YA! Tapi hal negatif juga banyak, dan bisa mentrigger emosi negatif kita yg sudah numpuk!


Begitulah beberapa sharing saya mengenai TOXIC POSITIVITY. Terkadang orang yang bermaksud baik dengan memberi semangat justru bukan hal baik bagi kita, baiknya kita jujur ke diri sendiri dalam mengeluarkan emosi dan berekspresi.


Semoga bermanfaat! Salam sehat!

Comments


Subscribe Form

  • facebook
  • twitter
  • linkedin

©2019 by Dokter Gila. Proudly created with Wix.com

bottom of page