• Adrian Tambunan

Pengalaman Investasi di Platform Bibit

Setelah cukup lama hiatus, akhirnya termotivasi untuk menulis lagi apalagi di kala pandemi ini. Resesi sudah di depan mata, bahkan menteri keuangan sudah memprediksi resesi tidak akan bisa kita hindari lagi, maka kita harus mempersiapkan dana darurat dan juga mendiversifikasi portofolio keuangan kita. Karena ketidakstabilan ekonomi yang terjadi kala resesi akan meningkatkan risiko berkurangnya nilai simpanan kita jika kita hanya bergantung pada satu sistem(misalnya hanya menyimpan investasi dalam bentuk emas, atau uang asing, padahal sejarah mencatat bahwa keduanya tetap ada risikonya masing-masing).


Dengan pertimbangan sebagian besar dana saya sudah dialihkan ke investasi risiko rendah seperti deposito dan obligasi pemerintah, maka saya memberanikan diri untuk menyisihkan sebagian dana saya untuk investasi yang berisiko tinggi. Dalam kesempatan ini, pilihan saya jatuh ke investasi saham di Bibit. Selama ini sudah sering melihat aplikasi dan iklannya, bahkan saya sudah mencari opini terdahulu dan tidak menemukan hal yang negatif atau berbau penipuan, tetapi baru sekaranglah saya akhirnya memutuskan menanamkan dana ke aplikasi Bibit ini.


Interface aplikasi bagus, setelah mengisi data, kita akan disuguhkan dengan pilihan portofolio dari Bibit. Kelebihan mereka adalah langsung menawarkan portofolio yang beragam, dari yang risikonya paling kecil sampai besar. Tetapi sesuai niat awal saya, saya sudah mempersiapkan diri untuk mengambil risiko di tipe investasi berupa Saham. Dari beberapa pilihan yang ada di aplikasi Bibit, akhirnya saya memilik BNI-AM Indeks IDX 30.


Lho, kok investasi di produk yg minus kak? Gila dong malah rugi!


Kalau hanya melihat angka di atas, wajar berpikir begitu, tapi bagi yang paham, yg minus itu adalah dana yg dialokasikan ke manajer investasi tersebut. Dikarenakan pasar saham yang sempat jatuh kuartal awal 2020 ini, banyak yg memindahkan dananya ke investasi yg lebih aman seperti reksadana campuran ataupun obligasi. Jadi minus di atas bukan berarti kinerja si manajer investasi buruk.


Lalu, kalau kita telaah lagi grafiknya, terhitung sejak April 2020, trend-nya cenderung naik meskipun belum kembali ke angka awal tahun 2020.


Apakah berisiko? Ya! Bisa saja naik lagi atau malah kalau krisis berkepanjangan bisa saja turun lagi. Karena itu, gunakan dana lebih, jangan dana utama diletak di sini, itu mah gila!


Belum 1 bulan, sudah 8%!? Wow! Tentunya trend naik ini hanya sementara, tetapi seandainya ini saya jualpun sudah seperti keuntungan deposito 1 tahun.


Apakah saya hanya beruntung dengan Bibit ini? Bisa jadi! Dan seperti yang saya katakan, trend naik drastis seperti ini terlalu berbahaya di dunia saham, karena orang akan berbondong menjual di kala tinggi sebelum membeli kembali di kala rendah. Jadi, ikut-ikutan boleh, tapi perhatikan timing-nya, jangan kita membeli saat sudah seharusnya untuk jual, itu namanya telat! Memang tidak akan rugi kalau kita hold, tapi tetap saja miris karena orang lain sudah meraup cuan duluan, sementara kita ketinggalan.


Semoga bisa menjadi referensi dan bahan diskusi teman-teman sekalian. Saya selalu membuka diri untuk saran dan opini.

Recent Posts

See All