Merchant Lounge Kartu Kredit Mandiri di Bandara Palembang: Pempek Candy

Halo teman-teman
Masuk bulan Juni 2025 nih, tahun ini banyak kenalan saya termasuk keluarga yang jatuh sakit, hampir tiap minggu rasanya di grup Whatsapp ada berita dukacita, semoga teman-teman sehat-sehat ya. Pada kesempatan ini, saya ingin sharing pengalaman saya menggunakan benefit langka dari kartu kredit, yaitu merchant lounge di airport. Kalau ada yang bertanya, ini beda dengan airport lounge ya, sistemnya bukan All you can eat, tapi tergantung merchant-nya. Misalnya di Medan ada Coffee Bean bisa dapat secangkir minuman dan makanan ringan. Nah, kebetulan saya berkesempatan menggunakan fasilitas Merchant Lounge dari Kartu Kredit keluaran Bank Mandiri di Palembang, lebih tepatnya Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II.
Untuk yang penasaran, list lengkap kartu kredit mandiri yang memberikan benefit di airport adalah sebagai berikut:

Sementara daftar Merchant Lounge nya sendiri cukup banyak, dan kadang di 1 bandara bisa lebih dari 1, tetapi kita dibatasi hanya boleh pilih satu yaaa. Daftar lengkapnya bisa cek di web kartu kredit mandiri. Tetapi saya share sedikit beberapa daftarnya ya:

Perlu diingat, daftar lounge ini bisa berubah sewaktu-waktu, jadi sebaiknya cek rutin di website Bank Mandirinya ya.
Nah, mengikuti yang tertera di website Bank Mandiri, maka Merchant Lounge di Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II Palembang adalah "Pempek Candy."
Seperti biasa, pastikan dulu ke kasir ya, meskipun ada brosurnya sebaiknya tetap konfirmasi dulu dengan kasirnya, mereka biasanya sudah paham persyaratannya dan kartu-kartu apa saja yang mendapat benefit Merchant Lounge. Dari staf Pempek Candy, saya diberitahu bahwa sistemnya potong 100rb dari pembelian paket pempek mereka. Nah, bagi yang gak mau keluar duit tambahan banyak bisa pesan paket terkecil mereka yaitu paket pempek kecil 20 pcs. Harganya Rp108.100, dipotong Rp100.000 jadinya cukup bayar Rp8.100. Wah!!! 20 pempek seharga Rp8.100??? Jelas nikmat banget lah. Apalagi ternyata bebas pilih lho, ada pempek adaan, lenjer, telur, kulit, keriting, banyak!!!


Setelah selesai pilih, langsung transaksi, transaksi pertama untuk potong Rp100.000 nya adalah transaksi formalitas senilai Rp1, kemudian baru transaksi Rp8.100. Selesai deh! Jadi dapat tambahan oleh-oleh hanya dengan Rp8.100. Saya sempat mikir enak juga kalau bisa digunakan untuk menu dine in mereka ya, tapi tak apalah, jadi ada tambahan oleh-oleh untuk orang rumah, lagipula pada doyan pempek.
Sebagai catatan, kartu mandiri signature saya benefit-nya hanya merchant lounge tetapi tidak ada airport lounge. Kalau teman-teman bukan kaum nasabah prioritas, saya sarankan incar kartu Mandiri Tzuchi yang memiliki benefit lounge airport dan juga merchant, dan pilihan lounge kartu kredit mandiri ini banyak banget, untuk kamu yang sering berpergian saya jamin puas.
Begitulah kisah saya memanfaatkan benefit merchant lounge dari kartu kredit mandiri di Palembang (Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II). Semoga bermanfaat dan teman-teman bisa sharing ataupun kirim pertanyaan jika ada yang masih membuat penasaran ya.
Terima kasih dan semoga sehat selalu,
Adrian
Referensi:
Pengalaman pribadi



Thinking about Osieczany as a place name makes me interested in learning that begins with nearby surroundings. A familiar road, a shared space, or a local memory can invite questions from several subjects at once. That is the appeal of Osieczany community learning for me. I like a project that gives students a reason to observe carefully before choosing an explanation. The result does not need to be grand; a thoughtful question can change how someone sees a place they already know.
The subject of connecting historical names with local education feels more interesting when there is room for a reader to stop and ask their own questions. A school's name can provide a route into discussing a wider historical period. Seen this way, Jagiellonian history education becomes a topic to explore rather than something to sum up too quickly. I am still thinking through the details, and a small example would help me picture how this works in practice. How can students explore a historical figure without reducing the lesson to a list of dates?
Thinking about making health information easier to understand, I find the smaller practical questions more interesting than a quick conclusion. Plain language can help readers recognise what a health explanation does and does not establish. I would keep that thought nearby when looking for ideas about health information literacy. The part I would like to explore further is what happens when the idea meets a real situation with its own limitations. What makes a health information page understandable to someone without specialist knowledge?
The topic of learning from subject specialists gives me a few things to think about, especially when the discussion moves beyond general advice. A specialist's example can show how a broad principle applies to a particular problem. That is the kind of detail I would keep in mind while exploring expert learning guidance. The part I would like to explore further is what happens when the idea meets a real situation with its own limitations. What makes an expert explanation useful to someone with little background knowledge?
What draws my attention to building connections through Grabow community projects is the possibility of making an unfamiliar subject feel closer to everyday life. A shared project can bring together people who know different parts of a town's story. It gives me a more concrete starting point for thinking about Grabow community learning. I do not have a settled view yet, but this seems like a good place to slow down and look more closely. How can students make a community project useful beyond the classroom?