top of page

Beras porang: alternatif pencinta nasi yang ingin diet.

Writer: Adrian Tambunan
Adrian Tambunan
May 28, 2024
2 min read

Pertama, coba kita diskusi dulu, apakah beras porang bisa dibilang beras?


Secara definisi memang beras haruslah olahan dari padi, tapi berhubung ada yg punya ide untuk mengolah umbi menjadi seperti bentuk beras, banyak yang memperbolehkan istilah “beras porang” atau “beras shirataki/konjac.” Seperti poster yg saya dapat dari sumber berikut:

Jelas yaaa, jadi beras porang secara bahasa sudah betul.


Nah, karena sudah sepakat ada yang namanya beras porang, kita lanjut pembahasannya ya.


Beras porang, juga dikenal sebagai beras umbi-umbian, atau beras keladi, berasal dari tanaman umbi porang (Amorphophallus oncophyllus). Tanaman ini umumnya ditemukan di daerah tropis, termasuk Indonesia. Porang memiliki umbi yang berukuran besar dan sering digunakan sebagai bahan dasar dalam berbagai hidangan.


Perbedaan utama antara beras porang dengan beras lain terletak pada kandungan kalorinya. Beras porang cenderung memiliki jumlah kalori yang lebih rendah jika dibandingkan dengan beras biasa. Hal ini dikarenakan kandungan karbohidrat yang rendah dalam beras porang. Catatan penting: Karbohidrat adalah sumber utama energi dalam makanan.


Selain itu, beras porang juga mengandung serat yang lebih tinggi dibandingkan dengan beras biasa. Serat merupakan komponen penting dalam diet yang membantu menjaga kesehatan pencernaan dan mengendalikan berat badan. Kandungan serat yang tinggi dalam beras porang dapat memberikan rasa kenyang lebih lama dan membantu mengendalikan nafsu makan.

Meskipun beras porang memiliki kalori yang lebih rendah, penting untuk diingat bahwa pengolahan dan cara memasak juga dapat memengaruhi nilai nutrisi. Jika beras porang diolah menjadi makanan yang digoreng atau ditambahkan bahan berlemak, nilai kalorinya dapat meningkat. Oleh karena itu, penting untuk memperhatikan cara memasak dan mengolah beras porang agar tetap sehat dan rendah kalori. Tapi tentunya nasi goreng shirataki akan memiliki kalori lebih rendah dibanding nasi goreng biasa (dengan catatan jumlah minyak yang digunakan sama).


Sekarang, brand beras porang sudah banyak, tapi yang sempat ramai sebagai pelopor didukung marketing yang bagus ya Fukumi.

Tapi di sosial media kok gak seheboh itu kak?
Kalau memang makanan sehat dan enak kenapa gak ramai dibicarain dan heboh semua orang beli?

Kalau ada yg nanya pertanyaan di atas, maka jawaban saya kembali lagi ke salah satu faktor utama dalam membeli sesuatu.

  • Bermanfaat? (Tentu, sehat malah)

  • Rasanya? (Enak, gak seseret beras merah)

  • Harganya? (Nah ini, minimal 150.000/Kg)


Jadi ya, pada mundur begitu dengar harganya. Padahal kalau dari rasa dan teksturnya, keluarga saya yang nyerah makan beras merah karena gak tahan dengan tekstur dan rasanya akhirnya pada doyan beras porang.(Rendang padang pakai nasi porang enak lho, kalau pakai nasi merah, agak berubah rasanya di mulut).


Dalam konteks diet dan manajemen berat badan, beras porang dapat menjadi alternatif yang menarik bagi mereka yang ingin mengurangi asupan kalori.


Penutup dari saya: Semoga ke depannya harganya bisa makin turun.


Salam dan semoga bermanfaat.


Referensi :


77 Comments


patriciawright42818
3 days ago

I can see why encouraging learning through local participation would invite discussion, since different people will bring different experiences to the same question. Taking part in a local activity can give a classroom topic a practical purpose. I would keep that thought nearby when looking for ideas about Jankowice community education. I do not have a settled view yet, but this seems like a good place to slow down and look more closely. How could a school invite families into a project without making participation difficult?

Like

josephhernandez47053
3 days ago

My first thought about writing clear and useful local advertisements is that the everyday experience deserves as much attention as the larger explanation. Specific descriptions can save both the reader and the advertiser a round of basic questions. This is why I would approach local classified advertisements with a specific question rather than a fixed expectation. A short discussion of an everyday example would make this easier for me to connect with, especially as someone still learning about the subject. Which details should always appear in a short local listing?

Like

barbarawright90322
3 days ago

My first thought about learning languages through everyday situations is that the everyday experience deserves as much attention as the larger explanation. A familiar situation can give new words a purpose beyond memorisation. That is the kind of detail I would keep in mind while exploring practical language learning. I can imagine different answers depending on the situation, so I would want to understand the context before drawing conclusions. How would you practise vocabulary so that it becomes easier to use in conversation?

Like

stephanielee72332
3 days ago

What interests me about telling meaningful stories with digital media is how a broad idea becomes part of an ordinary day. The order of images and words can change how an audience understands a story. For me, that is a useful way into the broader subject of digital storytelling techniques. I would probably come back to this question after trying to work through one concrete example rather than deciding immediately. How do you decide which details belong in a short digital story?

Like

markflores42185
3 days ago

When it comes to using a tourist guide to plan a flexible trip, I would rather understand one useful detail properly than rush through a long list of ideas. A useful guide should help visitors understand distances and pacing as well as major attractions. That is the kind of detail I would keep in mind while exploring tourist itinerary planning. I would be interested in a simple example, because it is often the ordinary details that make an idea memorable. What would you check before turning a list of places into a day plan?

Like

Subscribe Form

  • facebook
  • twitter
  • linkedin

©2019 by Dokter Gila. Proudly created with Wix.com

bottom of page